TEMPO Interaktif, Kata "kontroversial" seharusnya menjadi nama tengah dari Mario Balotelli. Di luar lapangan, penyerang Manchester City ini gemar berulah: berkelahi di bar, memarkir kendaraan sembarangan, dan yang paling menggegerkan, Oktober tahun lalu, bersama adiknya, Enoch, dia nyelonong tanpa izin masuk ke penjara wanita di Milan sekadar iseng. Di dalam lapangan, kenyentrikan pemuda 21 tahun ini lebih banyak lagi.
Namun kasus yang satu ini bisa dianggap sebagai sekadar kenakalan "remaja tahap akhir", yaitu bertemunya pemain Italia keturunan Ghana itu dengan dua bos mafia. Fakta ini ada di catatan kepolisian Italia dalam penyelidikan kasus dugaan pengaturan skor pertandingan sepak bola negeri itu. Tanggal kejadiannya adalah 8 Juni 2010, saat Balotelli masih berstatus sebagai pemain Inter Milan.
"Pemain Inter Milan, Mario Balotelli, terlihat di Scampia (wilayah Napoli, Italia bagian selatan) bersama dua pemimpin mafia, Salvatore Silvestri dan Biagio Esposito." Catatan kepolisian itu dilengkapi dengan foto si striker bersama dua pentolan Camorra, klan mafia dari Napoli, tersebut.
Sejauh ini polisi tak menetapkan Balotelli terlibat kejahatan yang berhubungan dengan mafia. Hanya, sang pemain harus hadir di pengadilan pada Kamis nanti, tepat satu hari setelah City bermain di Napoli pada Liga Champions. Dia dimintai keterangan soal Mario Iorio, pengusaha makanan, dalam kasus pencucian uang. Iorio juga terlihat menemani Balotelli saat berada di Scampia.
Lalu apa alasan Balotelli berada di Scampia? Pria bertinggi badan 191 sentimeter ini mengaku ingin melihat lokasi pembuatan film Gomorrah, film layar lebar yang menceritakan soal inisiasi anggota baru Camorra. Sedangkan soal Silvestri dan Esposito, Balotelli mengaku tidak kenal. "Saya hanya merasakan bahwa banyak orang dan narapidana mengelilingi saya di Napoli."
Mafia adalah sebutan untuk sindikat kejahatan terorganisasi yang mulai marak pada pertengahan abad XIX. Pusatnya di selatan Italia, Sisilia. Usaha mereka beragam: perjudian, perdagangan obat bius, prostitusi, dan lain-lain. Klan Camorra menguasai Campania, Ndrangheta di Calabria, Stidda di Sisilia, dan Sacra Coronia Unita di Apulia. Skandal-skandal pengaturan skor yang kerap terjadi di sepak bola Italia tak pernah lepas dari tangan-tangan mafioso, anggota mafia.
Nama Camorra mencuat dalam masalah yang berkaitan dengan sepak bola adalah pada kasus Diego Maradona. Konon, merekalah yang "mengorganisasi" agar penduduk Napoli patungan untuk mendatangkan sang legenda dari Barcelona pada 1984. Maradona bermain untuk Napoli, 1984-1991. Dari klub kecil, bersama Maradona, Napoli berhasil menjadi tim yang disegani dan meraih dua gelar juara Liga Italia, 1986/1987 dan 1989/1990.
Namun, menurut para mafioso yang membocorkan rahasia mereka kepada polisi, Camorra pula yang membuat Napoli tak menjadi juara pada 1987/1988. Mereka memerintahkan petinggi klub agar melepas peluang juara karena, bila tidak, bursa rumah judi yang dikelola Camorra bakal menderita kerugian besar.
Maradona mengakrabi obat bius dan prostitusi, yang membuat akhir kariernya berantakan, juga bermula dari pergaulannya dengan mafioso Camorra. Manajer pribadi Maradona, Guillermo Coppola, bahkan menjadi penyalur narkoba untuk para pemain Napoli.
Dalam sebuah pengakuannya, Maradona pernah mengatakan bahwa ia mendapat ancaman pembunuhan dari mafioso Camorra karena berniat pindah ke Olympique Marseille. Secara terang-terangan, General Manager Napoli saat itu, Luciano Moggi, mengatakan, "Maradona bermain untuk kami atau dia tidak bermain sama sekali." Sebuah ancaman yang jelas.
Moggi adalah orang yang sama yang berada di balik kasus skandal pengaturan skor pada 2006. Saat kasus yang terkenal dengan sebutan calciopoli itu terjadi, Moggi adalah Manajer Juventus, klub utama yang tersangkut skandal itu. FIGC (PSSI-nya Italia) menghukum Moggi tak boleh terlibat dalam segala urusan sepak bola seumur hidup.
Klub-klub dari selatan--Napoli, Palermo, dan beberapa klub divisi bawah--kerap dihubungkan dengan mafia karena kedekatan geografi. Pada kerusuhan sepak bola di Napoli, 2008, polisi menangkap 27 suporter Napoli. Mereka merusak rel kereta api setelah pertandingan melawan AS Roma. Polisi mengidentifikasi bahwa ke-27 orang itu memiliki catatan kejahatan yang berhubungan dengan mafia.
Menurut catatan rahasia polisi yang berhasil disadap pers Italia, tahun lalu, Palermo pernah memberikan seratus tiket gratis kepada anggota mafia Sisilia. Dua pemuka mafia, Giovanni Pecocaro dan Marcello Trapani, bahkan punya kuasa untuk menekan pelatih dan pengurus klub agar memasang atau tidak memasang pemain tertentu. Beberapa pemain diindikasikan menjadi pemain "dalam perlindungan" mafia. Palermo juga menyetor uang keamanan kepada mereka.
Catatan rahasia soal Balotelli adalah salah satu dokumen kepolisian dalam penyelidikan skandal scommessopoli. Kasus pengaturan skor di sepak bola Italia termutakhir ini lebih banyak terjadi di divisi bawah, bukan Seri A. Menurut polisi, kasus terbaru ini banyak kemiripannya dengan pengaturan pertandingan pada 1970-an, yang melibatkan salah satu legenda hidup sepak bola Italia, Paolo Rossi. Keduanya melibatkan para mafioso.
Berbagai catatan kelam itu menjadikan kasus "pertemuan tak sengaja" antara Balotelli dan dua bos Camorra tersebut menjadi sangat serius.
Sumber: http://m.tempointeraktif.com/2011/09/11/355575/
-->Posted with WordPress for BlackBerry.